Rabu, 21-10-2026
  • Selamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah Sumberkerang
  • Selamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah SumberkerangSelamat datang di website resmi Yayasan Fatahillah Sumberkerang

SANTRI MENGUATKAN NEGERI MENUJU INDONESIA EMAS. DARI SARUNG UNTUK INDONESIA

Diterbitkan : - Kategori : Uncategorized

Oleh: Muslimin Syaba (Kepala MTs Fatahillah) Sumberkerang Gending

Jika kita membuka lembaran sejarah, kita tidak akan pernah menemukan Indonesia merdeka tanpa peran santri. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang digelorakan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari bukanlah sekedar fatwa agama, tapi deklarasi cinta tanah air yang menggerakkan ribuan santri dan ulama untuk mengangkat senjata melawan penjajah. Dari pesantrenlah, nasionalisme itu disemai.

Maka, ketika Hari Santri Nasional 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, tema itu bukan sekedar slogan seremonial. Ia adalah pengingat, sekaligus tantangan.

Pertanyaannya: Bagaimana santri menguatkan negeri?

Pertama, santri menguatkan negeri dengan akhlaknya. Di tengah krisis moral, korupsi, perundungan, dan degradasi etika di media sosial, pesantren hadir sebagai benteng terakhir akhlakul karimah. Di Ponpes Fatahillah Sumberkerang Gending misalnya, santri tidak hanya diajari cara membaca kitab kuning, tapi diajari cara mencium tangan orang tua, cara tawadhu’ kepada guru, cara menghormati tetangga. Akhlak inilah modal utama Indonesia Emas 2045. Percuma Indonesia maju secara teknologi jika generasinya kehilangan adab. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang pintar, tapi bangsa yang berakhlak.

Kedua, santri menguatkan negeri dengan ilmunya. Dulu, stigma santri adalah kolot, tertinggal, dan hanya urusan akhirat. Hari ini stigma itu runtuh. Santri sudah menguasai ruang-ruang modern. Dari santri Fatahillah Sumberkerang, kita lihat santri yang hafal Al-Qur’an, tapi juga jago komputer, mahir bahasa Inggris, dan kreatif membuat konten dakwah digital. Inilah santri yang dibutuhkan Indonesia Emas: Santri yang menguasai ilmu agama sebagai kompas, dan ilmu umum sebagai perahu untuk mengarungi dunia global. Tidak ada dikotomi ilmu lagi.

Ketiga, santri menguatkan negeri dengan kemandiriannya. Pesantren adalah miniatur Indonesia yang mandiri. Di pesantren, santri diajari mencuci bajunya sendiri, mengelola keuangannya sendiri, berwirausaha, dan hidup berjamaah. Jiwa kemandirian inilah yang menjadi kunci Indonesia Emas. Indonesia tidak akan menjadi negara emas jika generasinya manja dan tergantung pada bantuan. Santri telah membuktikan, dari keterbatasan sarung dan papan kayu, lahir jiwa-jiwa pengusaha, pemimpin, dan pejuang yang tangguh.

Di Hari Santri ini, kita tidak hanya merayakan dengan upacara di halaman madrasah. Kita sedang menegaskan kembali janji. Bahwa dari bilik-bilik pesantren di pelosok desa seperti Sumberkerang Gending, akan lahir generasi yang menguatkan negeri.

Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir dari gedung-gedung pencakar langit di Jakarta saja. Indonesia Emas akan lahir dari doa-doa Sholawat Nariyah 4444 yang dipanjatkan santri setiap Ahad Manis, dari tetesan wudhu santri di sepertiga malam, dan dari keikhlasan Nyai dan Kiai dalam mendidik.

Karena sesungguhnya, menguatkan negeri bukanlah tugas tentara dan pejabat saja. Menguatkan negeri adalah tugas santri, tugas kita semua.

Santri hari ini adalah pemimpin Indonesia Emas esok hari.

Wallahu A’lam.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan